update nih bro.. sory agak lama, kemarin banyak kerjaan
rencana ane sih mau update 1 chapter perhari.. mulai besok akan diusahakan deh
yang penting ceritanya lancar, tamat dan gak macet..
thanks.. and hope you enjoy it..

Out Of The Blue

Chapter II bag. 2

A NEW CHALLENGE

Sesampainya di lokasi perumahan tersebut, kami berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar.. keadaan sekitar sangat lengang dan sepi, malam sudah cukup larut, sekitar jam 23.00 kala itu.

Arna : “Frans, lu tunggu di mobil aja ya” ucap arna sambil memasang sepatunya yang ia lepas ketika diperjalanan tadi.

Frans : “lu mau ngapain sih? Sepi gini ntar kita dituduh mau ngerampok lagi” gerutu ku

Arna : tenang aja lu, gue bentaran doang kok..

Frans : “Ya udah cepetan lu satroni tu rumah!” ucapku agak berbisik dengan gaya seperti perampok profesional

Arna : “Oke.. ntar kalo lu liat ada orang lu kasih kode ke gue ya” balas Arna sambil keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil secara perlahan dengan gaya penjahat yang tak kalah profesional.

5 Menit.. 10 Menit.. 15 Menit.. “sialan nih anak lama banget” aku menggerutu.. sudah 3 batang rokok kuhisap tapi Arna tak juga kembali, aku melihat dari kaca mobil Arna sedang berbincang dengan seorang wanita di depan rumah tersebut, perbicangan yang serius kelihatan dari mimik dan gestur mereka. Aku perhatikan teman Arna itu tapi cukup kesulitan melihat wajahnya secara jelas karena lampu didepan rumah tersebut sangat temaram. Yang aku tau temannya itu menggunakan jilbab (no sara) yang panjang sampai ke pinggangnya, dari tampilannya sepertinya wanita yang sangat ta’at. “gila nih anak, cewek alim gitu mau dijadiin korban juga” ucapku dalam hati.

Setelah cukup suntuk menunggu akhirnya Arna kembali ke mobil.. raut wajahnya berubah, sepertinya Arna sedang ada masalah. “Yuk jalan lagi frans.. kita ke tempat temen gue yang di daerah N” ucapnya lesu.. ingin kutanyakan kepadanya apa yang terjadi tapi karna perubahan raut wajah Arna yang terlihat datar dan sedang berfikir keras, aku pun mengurungkan niatku untuk bertanya. Untuk beberapa menit kami saling terdiam.

“Frans, ntar lu gue kenalin ke temen gue..” tiba-tiba Arna membuka omongan.

“namanya Lisa, dia itu temen les musik gue” sambungnya.

Hmm.. terus? Tanyaku bingung.

Pake’an gue juga sih kalo gue lagi kepepet, tapi sama cowok doi doyan juga kok. Umurnya gak jauh beda dibawah kita, semok abis, pokoknya mantep deh.. Jawabnya.

Hmm jadi..? Tanyaku lagi agak bingung dan penasaran karena merasa bakal ada angin segar.

jadi dari kemaren doi ngebet banget pengen threesome.. sama cowok juga gitu.. dan gue pikir sih lo pasti juga mau kan..

eh….. iya kan..? lu mau kan..? Tanyanya sambil menatapku tajam.

Deg..deg..deg.. tiba-tiba jantungku berdegup agak kencang sehingga memompa darahku lebih deras.. aku terkejut, bingung harus menjawab apa.. jelas aku tertarik untuk merasakan tubuh Lisa temenya Arna tersebut. Tapi ini masalahnya threesome.. antara aku, Lisa dan tentu saja Arna. Rasanya sulit membayangkan melakukan hal tersebut dengan Arna karena meskipun aku mengakui Arna memiliki tubuh dan wajah yang luar biasa cantik, dari dulu hingga saat ini aku sedikipun tidak punya perasaan apa-apa terhadap Arna selain hanya menganggap dia sahabat, tidak ada perasaan horny ketika berada didekatnya. Sebagaimana aku berteman dengan teman sesama pria seperti itu lah pertemananku dengan Arna, terlebih lagi dahulu dia adalah salah satu drummer sainganku sewaktu kompetisi drummer terbaik tingkat pelajar yang diadakan di Kota ku saat aku dan Arna belum saling mengenal, maka Wajar jika timbul sedikit rasa respect terhadapnya hingga sedikit pun aku tidak pernah berfikiran untuk melakukan hal yang macam-macam dengannya.. dan menurutku pasti Arna juga menganggapku sama seperti bagaimana aku menganggapnya. namun setelah ajakan untuk threesome yang ditawarkannya malam ini, aku merasa Arna berubah menjadi aneh, tidak seperti Arna yang ku kenal dulu. Atau jangan-jangan aku lah yang sebenarnya aneh, mungkin ajakan threesome Arna ini bukan bercinta bertiga seperti yang aku bayangkan.. bisa saja maksud Arna ini bukan kami bertiga saling bercinta satu sama lain, tapi hanya Aku dan Arna yang bekerja sama untuk memuaskan Lisa tanpa ada percintaan antara kami berdua..

“Woooy… lu kok malah bengong” tanya Arna, mengejutkanku.

Lu gak mau ya ? takut lu ketahuan pacar lu ? lu tenang aja Frans, lisa anaknya asik kok, gak bakalan cerita kemana-mana dia, yang penting dia happy aja udah..

“Gimana ya…. gue lagi gak sange sih sebenarnya, tapi liat ntar deh” jawabku asal, karena sebenarnya aku masih bingung.

“gue jamin ntar kalo lu udah ketemu orangnya lu pasti sange” jelas Arna mencoba meyakinkanku.

Sepanjang jalan aku terus berfikir.. apakah ini akan terjadi? Bukannya aku tidak mau .. tapi Sulit rasanya jika aku harus bercinta dengan Arna, seorang yang aku anggap sahabatku.. akhirnya aku berencana jika percintaan threesome tersebut terjadi, aku hanya akan meladeni Lisa saja..

Akhirnya kami pun tiba di rumah Lisa, kulirik jam digital di dashboard mobil terlihat waktu telah menunjukan pukul 01.15, Arna mengajaku masuk dan setelah berkenalan dengan lisa, Lisa langsung mengajak kami masuk ke kamarnya.. Arna terlibat obrolan-obrolan ringan dengan Lisa diatas tempat tidur lisa, sedangkan aku duduk di sofa kecil disamping tempat tidurnya sambil melihat kearah televisi walau mataku tidak sepenuhnya mengarah ke televisi, sesekali aku memperhatikan Lisa, memang benar apa yang dikatakan Arna, walaupun wajahnya tidak lebih cantik dari pacarku Della, tapi Lisa memiliki tubuh yang aduhai semok sekali.. bibirnya sangat sensual, membuatku ingin tau bagaiman rasanya jika kontolku berada didalam mulutnya, apalagi buah dada yang menonjol dan bongkahan pantat yang menungging membuat mataku tak bosan untuk terus melirik ke arah pantatnya, lisa hanya mengenakan daster tipis tanpa lengan model terusan yang bagian bawahnya sangat pendek hingga jika ia menunduk sedikit saja maka dasternya akan terangkat dan memperlihatkan sedikit celana dalamnya yang berwarna coklat itu. Paha Lisa sangat mulus, begitu juga dengan ketiaknya yang terlihat ketika ia mengangkat kedua tangannya untuk mengikat rambut.. mulus sekali tanpa bulu, mencium aroma tubuhnya saja rasanya gairah nafsu birahiku langsung terpacu untuk segera melumat habis tubuhnya. Tapi begitu melihat wajah Arna, tiba-tiba nafsu ku menjadi down.. teringat akan threesome denganya juga.. tapi semoga itu tidak sampai terjadi, pikirku..

Obrolan Arna dan Lisa terdengar samar-samar, aku tidak begitu memperdulikannya, tapi ntah siapa yang memulai aku melihat mereka berdua sedang berciuman, bibir Arna dan Lisa saling berpagutan seolah akan saling menerkam satu sama lain, tangan Arna pun mulai beranjak merayap dari bawah daster Lisa menuju gundukan payudara Lisa yang sangat menonjol tersebut.. daster Lisa pun tersingkap, aku bisa melihat celana dalam coklat muda yang ia kenakan sangat ketat dan membentuk belahan camel toe di bagian vaginanya. Arna membuka daster Lisa dan Lisa pun perlahan-lahan membaringkan badanya dengan posisi Arna berada diatas tubuh Lisa.. aku yang hanya bisa tertegun melihat adegan erotis mereka tiba-tiba dikejutkan dengan pertanyaan Lisa,

“Frans! lu sini dong.. kok bengong aja.. lu punya kontol kan? Sini coba gue liat” pinta Lisa dengan nada agak menantang.

Arna pun menolehkan kan wajahnya kearahku Sekilas aku menatap wajah Arna yang juga sedang menatap ku.. matanya sayu, sambil tersenyum simpul seakan juga ikut menantangku. Baru sekali ini aku melihat tatapan Arna yang seperti itu.

Oh.. my good, apa yang harus aku lakukan, haruskah ini terjadi.. Dengan pura-pura tetap cool aku pun berdiri dari dan membuka celana jeansku, aku tau jika saat itu Arna dan Lisa sedang memperhatikanku, karena itu aku melepaskan celanaku jeansku perlahan-lahan sambil terus menatap mata Lisa supaya terkesan kalau aku menerima tantangan darinya. Tentu saja aku hanya menatap mata Lisa, sungguh aku tidak berani sedikitpun menatap Arna, bahkan aku berusaha menganggap dia sebenarnya tidak ada disitu. Setelah celana jeansku terlepas kemudian aku melanjutkan dengan membuka kaos ku, terlihatlah dada bidangku yang ditumbuhi bulu dada cukup lebat. Sempat terdengar oleh ku Lisa mengatakan sesuatu kepada Arna “waw.. dadanya berbulu Ar.. tipe gue banget ini” , sekarang aku sudah hampir bugil hanya menyisaksan celana dalam model boxer ketat yang menonjol dibagian penis karna sudah mulai berdiri. aku tidak tau bagaimana ekspresi wajah Arna melihatku seperti ini. Akupun naik keatas tempat tidur dan langsung memegang kepala Lisa bagian belakang untuk mendekatkan bibirnya ke bibirku, matanya terpejam ketika aku melumat bibirnya, lidahnya pun tidak mau kalah, terus berusaha memasuki rongga mulutku berusaha untuk menjilati setiap bagian lidahku.. sambil bibirku berpagutan aku melirik kebawah dan terlihat Arna mulai mempelorotkan celana dalam Lisa, vagina Lisa tebal sekali dan ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Arna mendekatkan bibirnya ke vagina Lisa, Arna mencoba untuk membuka belahan vagina Lisa dengan menggunakan bibirnya, Lisa pun melenguh, saat belahan vaginanya terbuka dan terlihat clitorisnya yang berwarna pink “Aaahhh..” desah lisa, lisa pun semakin ganas melumat bibirku, tanganya perlahan merayap mendekati batang penisku, bagai tersentrum penisku meradang ketika tangan lisa menggenggam penis ku walaupun hanya dari luar celana dalam ku.. hah!! Lisa sedikit terkejut dengan ukuran kontolku “kontol lu gede banget ini frans” ucap lisa kepadaku, Lisa mengelus penisku perlahan, dan ia berbisik “kontol kamu udah keras banget frans” kami berhenti berciuman, aku menurunkan kepalaku dan mulai menjilati puting susu Lisa yang sudah mengacung, lisa pun semakin menggelinjang karna tak tahan dengan rangsangan yang diberikan olehku dan Arna..

“Ahh… ahh.. isepin yang kuat frans..” pinta Lisa kepadaku.. aku pun semakin kuat menghisap puting susunya sambil sedikit ku gigit kecil, lisa menegakkan tubuhnya, ditariknya kepalaku dan dilumatnya kembali bibirku, ciumanya sangat ganas sehingga aku sedikit kewalahan meladeni goyangan lidahnya di dalam rongga mulutku, tanpa kusadari ternyata kepala Arna ada disebelahku, Lisa melepaskan ciumannya dibibirku dan mulai berciuman bibir dengan Arna, Lisa seperti kesetanan melumat bibirku dengan Arna secara bergantian, beberapa kali ia mengulanginya sampai ketika ia merasa ada yang aneh, lisa pun menghentikan ciumanya..

“Kalian juga ciuman dong, aku pengen liat…….” pinta lisa agak memohon..

Sontak aku kaget dengan permintaannya itu, ragu untuk melakukannya lalu aku menatap wajah Arna,dari tatapannya aku pun bisa melihat kalau Arna juga ragu akan berciuman denganku.. kami hanya berpandangan beberapa saat sampai akhirnya terdengar dering suara telfon yang cukup mengagetkan kami.

Huuuuhh.. akupun merasa lega kejadian yang kuanggap awkward ini terselamatkan dengan bunyi telefon.

Arna beranjak dari tempat tidur dan merogoh tas untuk mengambil HP nya yang berbunyi, Arna menjawab panggilan telefon itu..

“Kalian lanjutin aja, gue ada urusan bentar” ucap Arna sambil berlalu keluar kamar

“Yah, nih anak kebiasan.. kalo udah nerima telfon gitu gak mungkin sebentar tuh” ucap Lisa sambil memajukan bibir bawahnya.

“Emang siapa sih yang telfon? penting banget kayaknya?“ tanyaku

“Gak tau, dan gak penting” jawab Lisa sambil menidurkan tubuhku di sampingnya..

Lisa mengusap-usapkan pipinya di dadaku..

“Uuhh.. bulu dada kamu ngegemesin banget frans” ucap lisa dengan manja

Perlahan namun pasti kepala Lisa mulai turun ke bawah pusar ku, diperhatikannya tonjolan batang penis yang tercetak di celana dalamku sesaat “ gede banget batang lo frans” ucap lisa sambil menempalkan hidungnya ke cetakan itu, dicium-ciuminya batang penisku.. terkadang dia juga menjilat dan menggigit batang itu dengan gemas.

Tangan lisa kini mencoba menurunkan celana dalamku, begitu terlepas dari sarangnya, penisku mengacung berdiri tegak sempurna, ukuranya kulihat hampir pas sepanjang wajah Lisa mulai dari Dagu sampai ke pangkal rambut di keningnya..

Lisa mennjilati batang kontolku dengan bibirnya sambil tangan kirinya meremas halus buah zakarku. Kemudian dengan lahap lisa mencoba memasukan batang penisku kedalam mulutnya, tapi nampaknya ia tak mampu memasukan seluruh batang penisku, hanya 2/3 bagian saja yang berhasil masuk. Perlahan dimaju mundurkan kepalanya untuk mengocok penisku dengan mulutnya.. melut Lisa terlihat sangat penuh terisi dengan batangan penisku yang cukup besar.. hmmpff.. arrgh… suara yang keluar dari mulut Lisa mencoba memaksa penisku untuk masuk lebih dalam ke tenggorokannya.. penisku sudah sangat basah dengan air liurnya. Tersa hangat sekali ketika penisku berada dalam mulutnya.

Frans.. masukin kontol gede lu ke memek gue frans, gue gak tahan lagi cepetan…. lisa memohon sambil menduduki penisku, diusap-usapkanya sebentar kepala penisku membelah celah rapat di vaginanya. Lalu perlahan lisa menurunkan badanya.. aahh… aduh… lisa agak berteriak karna merasa sakit dengan desakan kepala penisku di dalam vaginanya. Perlahan-lahan namun pasti, batang penisku mulai masuk kedalam vagina lisa, terasa hangat sekali, cairan vaginanya pun mulai terasa menempel licin di kuli penisku.. akhirnya dengan sekali dorongan keatas, aku berhasil memasukan seluruh penisku..

“ahh.. pelan-pelan frans.. gede banget ini..” teriak lisa sambil tangan kirinya menahan perutku..

Aku mendiamkan penisku beberapa saaat didalam vaginanya, seperti terjepit-jepit saat vagina lisa berkedut menekan penisku.

Pelan-pelan lisa mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, mengocok kontolku di dalam memeknya,

Gimana.. enak gak frans? Tanya nya sambil menatapku dengan tatapan nakal

“Enak sa.. memek kamu mantep, sempit banget..” jawabku memuji

Mendengar pujianku lisa pun semakin bernafsu mengoyangkan pinggulnya lebih cepat,

Suara basah di kemaluan kami pun mulai terdengar..

Frans, kau mau nyampe nih.. aduuh.. aahhh.. ahhh.. mau nyampe frans…

Lisa meracau sambil meremas erat dadaku dengan kedua tanganya..

Aku pun membantu menyodok-nyodokan penisku.. suara kemaluan kami un semakin jelas terdengar..

Uuuhhhhhhhhhh…. lisa melenguh panjang, tubuhnya ambruk menimpaku ketika ia merasakan orgasmenya, terasa kenyal dan hangat payudaranya terjepit diantara dadaku dan tubuhnya..

Kubiarkan sesaat dia untuk menikmati orgasmenya, lalu aku berdiri dan menunggingkan tubuhnya, aku ingin mencoba gaya doggy karena tak tahan melihat bongkahan pantat lisa yang menonjol itu, lisa pun paham dan agak menunggingkan pantatnya, bulat sekali pantat lisa membuatku tak tahan dan langsung mengarahkan penisku untuk menyodok memeknya dari belakang..

Kum maju mundurkan penisku perlahan, sambil memperbaikai posisi ku agar lebih nyaman..

“Ayo yang kuat frans… masukin dalem-dalem sampe mentok.. kontol kamu enak frans.. urat-uratnya kerasa bangen di memek aku” ucap lisa membuatku semakin bersemangat memompa memeknya dengan kejam..

Aahh.. aahh.. ahhh…. ahh…. hmmm… ahh.. ooohh… hanya itu yang keluar dari mulut lisa…

Bosan dengan gaya ini akupun membalikan tubuhnya, dengan posisi MOT aku mencoba memompa memeknya sambil melumat bibirnya yang seksi.. hhmmm.. ahhh… terus frans.. teruss…. aku.. mau.. keluar lagi frans…” ucap lisa sambil menjambak rambutku cukup kuat.. pinggulnya sedikit terangkat, sepertinya dia akan orgaasme lagi, aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh…………… kembali lisa melenguh panjang.. kedua kakinya mengenjanng kuat menjepit pinggulku. Terasa semprotan cairannya melumasi kontolku di dalam memeknya, aku terasa tidak bisa menahan lagi, sepertinya pertahananku mulai jebol.. kucabut kontolku dari memek lisa dan langsung mengarahkan kontolku ke mulutnya, dengan sigap lisa pun menegakkan kepalanya lalu menyedot kontolku dalam-dalam, isapannya sangat kuat dan ahh… ccrooot.. crooot… croott.. spermaku tersemprot kuat di dalam mulutnya.. lisa terpejam menerima semprot sperma di dalam mulutnya sambil masih memaju mundurkan mulutnya perlahan.. hingga kurasakn ia telah menelan habis spermaku.. aku menarik kontolku keluar dari mulutnya, aku pun ambruk disamping lisa…. kulihat lisa masih terpejam berusaha mengatur nafas dengan tangan di keningnya..

Setelah merasa tenaga ku kembali, aku mengambil rokok dan membakarnya lalu aku memakai celana boxer ku kembali, aku berjalan keluar kamar untuk melihat Arna.. dari ruangan tengah aku dapat melihat Arna masih telfonan di ruang tamu.. akupun tidak ingin mengganggunya, aku pun kembali ke kamar dan berbaring disebelah Lisa yang masih telanjang..